Jumat, 08 September 2017

Penikmat Rindu

Kala itu, aku sedang menulis rindu. Di tengah tetesan gerimis yang merdu. Dengan suara sendu. Kamu tak pernah tahu, rinduku akan aku simpan dalam kalbu. Biarkan saja aku, biarkan aku resapi sendiri rinduku.

Suatu saat kau akan tahu, betapa kerasnya kala aku berjuang untukmu. Bertahan kala badai besar menghantam dadaku. Saat kau tak lagi punya rasa untuk bertahan di sampingku. Saat kau memilih untuk menggantikan aku dalam hatimu.

Kau begitu tega. Meninggalkan luka yang menganga. Apa kau tak pernah punya hati ? Mencampakkanku bagaikan benalu yang telah mati. Sekeras apapun aku bertahan, hanya luka yang kudapati.

Apakah cinta akan selalu seperti ini ? Pura-pura buta meski ia melihat kesakitan di matanya. Pura-pura baik mesti hatinya hancur bahkan tak bersisa.

Cinta ... Aku yakin ia mudah memaafkan. Meski luka yang tersisa tak sanggup dihilangkan.

Aku ... Wanita yang tengah berusaha memaafkanmu. Meski berat masih terasa, namun akan aku nikmati apa yang ada. Aku masih merindumu. Merindu caramu mencintaiku. Tapi sekarang tak ada lagi kita. Aku hanya tengah berusaha menikmati kembali rindu yang pulang ke rumahnya.

Diana Resmi

Jumat, 28 Juli 2017

Aku tahu aku sangat menyebalkan. Aku juga begitu egois. Aku sering memarahimu tanpa alasan. Dan aku juga masih jauh dari kata sempurna. Aku punya banyak kekurangan. Tapi aku bangga padamu yang mampu bertahan sejauh ini. Bertahan menghadapi sifatku yang aneh.

Aku hanya ingin kamu selalu seperti ini. Mengingatkanku ketika aku mulai jauh. Mengajariku dalam ketidakmampuanku. Meski terkadang kamu juga begitu menyebalkan, tapi aku tahu itu semua kamu lakukan untuk kebaikanku. Jangan pernah mencoba untuk mencari perempuan lain, itu bukan hal baik dan tentunya akan membuatku terluka.

Terima kasih sudah bersedia menetap dalam kekuranganku. Bersedia menemani dalam keegoisanku.

Diana Resmi

Sabtu, 22 Juli 2017

Aku, Kamu, dan Senja Sore itu

     Kita pernah duduk berdua. Menikmati indah senja kala itu. Kau pernah bilang bahwa kita akan saling membutuhkan dan tak akan meninggalkan. Aku percaya saja karena saat itu aku begitu mencintaimu. Rasaku sudah benar-benar kau miliki.
     Kau sungguh mempesona kala senja datang. Kau mampu menghangatkan hatiku. Kau suka bercerita ketika senja mulai malu-malu menyapa. Itulah sebabnya aku sangat menyukai senja, begitupun aku yang sangat menyukaimu.
     Aku selalu ingat senyummu yang merona ketika tersapa warna jingga. Memang kita lebih suka menghabiskan waktu ketika senja, hanya untuk sekadar bercerita hal biasa. Aku sungguh percaya padamu dan padanya.
     Sampai pada batas lelahmu datang, kau begitu tega. Meninggalkanku tanpa kata. Aku remuk. Setelah apa yang telah kita lewati bersama, kau dengan sengaja ataupun tidak telah berhasil membuat luka.
     Aku tak pernah tau alasanmu pergi sejauh ini. Entah itu salahku, atau salah siapa ? Tak pernah ada yang mampu menjawabnya. Sejak saat itu, aku mulai mengutuki senja. Kenapa harus ada senja yang akan selalu mengingatkanku pada nestapa.
     Aku terpuruk. Aku hancur. Aku remuk. Kala itu, senja yang kutahu sangat indah berubah menjadi buruk. Kenangan yang tak bisa aku tepis akan muncul ketika gemurat warna jingga membias di mata.
     Aku menyerah, pernah berpikir berhenti dan tak akan melihat senja. Namun, aku tahu senja sore itu berbeda denganmu. Bertahun-tahun aku mencoba kembali mengakrabkan diri pada senja. Senja yang dulu selalu aku nanti bersamamu tentunya.
      Berbeda memang. Aku harus kembali menata hidupku. Belajar untuk kembali menyukai senja meski kala senja datang memori masa lalu akan menjelma layaknya komedi putar. Tak bisa aku hentikan.
     Sekarang aku bisa menerima. Kepergianmu hanya sebatas kenangan masa lalu yang akan menguatkan. Hanya untuk mengingat bahwa kamu seperti senja. Meninggalkanku ketika aku mulai terbiasa. Tapi senja selalu tahu, dia akan selalu kembali meski terkadang aku merutukinya. Tidak sepertimu yang pergi, begitu saja.

Diana Resmi
23/07/2017

Cinta, Sesederhana Luka

     Aku lebih suka mencintaimu secara sederhana. Seperlunya saja. Bukan maksudku tak bisa setia. Biarkan saja aku seperti ini. Karena aku takut suatu saat nanti entah kapan waktunya kau akan meninggalkanku tanpa alasan. Aku hanya berusaha menjaga hatiku agar tak hancur seperti diterjang ombak besar.
     Kau pun boleh sama sepertiku. Karena aku tak pernah menuntutmu untuk meniru orang lain. Aku punya banyak kekurangan dalam mencintaimu. Begitupun kamu yang juga berhak punya kekurangan saat mencintaiku.
     Maaf jika selama kau bersamaku, aku tak pernah membuatmu bahagia. Aku tak bisa mengungkapkan cintaku. Aku pun tak bisa seperti yang lain ketika sedang jatuh cinta.
     Aku seperti ini bukan untuk balas dendam. Aku memang pernah jatuh cinta sejatuh jatuhnya lalu ditinggal begitu saja. Pernah hancur sehancur hancurnya karena harapan yang pernah ada hilang sekejap mata.
     Aku hanya sedikit takut akan jatuh cinta. Memang setelah kau datang kau mampu sedikit menghapus duka. Tapi ingatan tentang kehampaan luka masih tersisa. Dan ketakutan akan luka yang masih menganga.
     Maafkan aku. Aku tak mampu memberi yang terbaik. Aku masih saja takut akan ketulusanmu. Masih saja takut akan kau tinggalkan. Aku hanya tak mau kau pergi meninggalkan luka.
     Terima kasih masih bersedia menemani. Aku memang mencintaimu sekarang. Tak ada yang lain. Tapi aku akui cintaku masih sederhana. Aku hanya ingin cinta yang sederhana ini mampu bertahan sampai batas waktunya. Dan akan saling menguatkan entah kapan ujungnya.

Diana Resmi
22/07/2017
    

Selasa, 18 Juli 2017

Tugas Mata Kuliah Sejarah Sastra

1. Posisi pengarang wanita pada periode sastra angkatan 66.
Pada mulanya sebelum tahun 70-an, perempuan sangag tidak dihargai. Mereka dianggap sangat rendah, posisi mereka selalu dinomor duakan dari kaum laki-laki. Kemudian mulai muncul teori feminisme, dimana teori ini memandang perempuan mampu sejajar dengan laki-laki di luar kodratnya sebagai perempuan. Awal kemunculan pengarang wanita dalam dunia sastra mereka mengangkat tema tentang kehidupan yang penuh penderitaan. Pada saat itu baru sedikit pengarang yang muncul. Sampai beberapa periode dari pujangga baru sampai angakatan 45 para pengarang wanita ini masih mempertahankan tema tentang kesedihan. Tidak meluapkan semua ide yang ia punya. Sehingga pada saat itu mereka belum sepenuhnya dihargai. Karena ada sebagian orang memandang karya dengan tema tersebut merupakan karya biasa jika dibandingkan dengan karya-karya besar yang sudah mulai ada sejak angkatan balai pustaka. Hingga kemudian pada periode angkatan 66 mulai muncullah pengarang wanita dengan ide yang lebih baru. Salah satunya N.H Dini. Ia mendobrak sastra indonesia dengan mengangkat tema tentang perempuan, tentunya yang ia perjuangkan adalah untuk mengangkat derajat perempuan sebagai manusia. Sejak tahun 60-an hingga sekarang, tema yang diusung pengarang perempuan mulai bergenre cerita yang mudah dicerna dan sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Seiring dengan perkembangan terhadap dunia perempuan, pola pikir mereka pun ikut berubah. Sehingga kedudukan pengarang wanita saat ini sudah tidak lagi dipandang sebelah mata, sekarang mereka sudah dihargai banyak kalangan. Mereka sudah menempati hati pembaca dengan karya-karya mereka.
2. Fenomena pasar tentang karya sastra.
Fenomena pasar pada masa itu khususnya angkatan 66 hingga sekarang menerima sebuah karya sastra dengan menyuguhkan cerita yang mudah dicerna dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pasar saat itu sangat menerima karya yang lekat kaitannya dengan kehidupan. Lemudian pada awal tahun 20-an muncul fenomena chicklit dan teenlit yang menimbulkan banyak pro dan kontra. Fenomena ini berhasil memikat hati pembaca, percetakan, hingga melahirkan komunitas-komunitas penggemar setia. Penanda novel berjenis chicklit adalah tokoh utama kebanyakan perempuan yang berpikiran maju, dan bergaya hidup modern. Sedangkan teenlit penyajiannya menyerupai penulisan buku harian yang kental dengan kehidupan kaum remaja dan anak sekolahan. Fenomena ini sangat digandrungi pembaca. Tema yang diangkat kebanyakan tentang perempuan. Munculnya fenomena ini juga menimbulkan kontra di berbagai pihak. Menurut mereka ini tidak mengangkat tema kehidupan global masyarakat Indonesia. Menurut mereka novel jenis ini juga tidak memiliki daya didik tinggi. Novel yang hanya menyajikan kesenangan kehidupan tanpa memandang sisi sulitnya kehidupan. Di balik kekurangannya, nyatanya fenomena ini mampu melahirkan banyak pengarang wanita baru yang bermunculan hingga sekarang.

Cerita tentang Gadis cantik di kereta

     K.H Mustofa Bisri dalam cerpennya yang berjudul Gadis Beralis Tebal Bermata cemerlang ini hanya menyajikan beberapa tokoh saja. Tidak d...