1. Klik di sini untuk file word
2. Klik di sini untuk file pdf
3. Klik di sini untuk file ppt
4. Klik di sini untuk link video Inspirasi : Saya mencari istri setia unuk suamiku
5. Video Inspirasi : Saya mencari istri setia unuk suamiku
Kala itu, aku sedang menulis rindu. Di tengah tetesan gerimis yang merdu. Dengan suara sendu. Kamu tak pernah tahu, rinduku akan aku simpan dalam kalbu. Biarkan saja aku, biarkan aku resapi sendiri rinduku.
Suatu saat kau akan tahu, betapa kerasnya kala aku berjuang untukmu. Bertahan kala badai besar menghantam dadaku. Saat kau tak lagi punya rasa untuk bertahan di sampingku. Saat kau memilih untuk menggantikan aku dalam hatimu.
Kau begitu tega. Meninggalkan luka yang menganga. Apa kau tak pernah punya hati ? Mencampakkanku bagaikan benalu yang telah mati. Sekeras apapun aku bertahan, hanya luka yang kudapati.
Apakah cinta akan selalu seperti ini ? Pura-pura buta meski ia melihat kesakitan di matanya. Pura-pura baik mesti hatinya hancur bahkan tak bersisa.
Cinta ... Aku yakin ia mudah memaafkan. Meski luka yang tersisa tak sanggup dihilangkan.
Aku ... Wanita yang tengah berusaha memaafkanmu. Meski berat masih terasa, namun akan aku nikmati apa yang ada. Aku masih merindumu. Merindu caramu mencintaiku. Tapi sekarang tak ada lagi kita. Aku hanya tengah berusaha menikmati kembali rindu yang pulang ke rumahnya.
Diana Resmi
Aku tahu aku sangat menyebalkan. Aku juga begitu egois. Aku sering memarahimu tanpa alasan. Dan aku juga masih jauh dari kata sempurna. Aku punya banyak kekurangan. Tapi aku bangga padamu yang mampu bertahan sejauh ini. Bertahan menghadapi sifatku yang aneh.
Aku hanya ingin kamu selalu seperti ini. Mengingatkanku ketika aku mulai jauh. Mengajariku dalam ketidakmampuanku. Meski terkadang kamu juga begitu menyebalkan, tapi aku tahu itu semua kamu lakukan untuk kebaikanku. Jangan pernah mencoba untuk mencari perempuan lain, itu bukan hal baik dan tentunya akan membuatku terluka.
Terima kasih sudah bersedia menetap dalam kekuranganku. Bersedia menemani dalam keegoisanku.
Diana Resmi
Kita pernah duduk berdua. Menikmati indah senja kala itu. Kau pernah bilang bahwa kita akan saling membutuhkan dan tak akan meninggalkan. Aku percaya saja karena saat itu aku begitu mencintaimu. Rasaku sudah benar-benar kau miliki.
Kau sungguh mempesona kala senja datang. Kau mampu menghangatkan hatiku. Kau suka bercerita ketika senja mulai malu-malu menyapa. Itulah sebabnya aku sangat menyukai senja, begitupun aku yang sangat menyukaimu.
Aku selalu ingat senyummu yang merona ketika tersapa warna jingga. Memang kita lebih suka menghabiskan waktu ketika senja, hanya untuk sekadar bercerita hal biasa. Aku sungguh percaya padamu dan padanya.
Sampai pada batas lelahmu datang, kau begitu tega. Meninggalkanku tanpa kata. Aku remuk. Setelah apa yang telah kita lewati bersama, kau dengan sengaja ataupun tidak telah berhasil membuat luka.
Aku tak pernah tau alasanmu pergi sejauh ini. Entah itu salahku, atau salah siapa ? Tak pernah ada yang mampu menjawabnya. Sejak saat itu, aku mulai mengutuki senja. Kenapa harus ada senja yang akan selalu mengingatkanku pada nestapa.
Aku terpuruk. Aku hancur. Aku remuk. Kala itu, senja yang kutahu sangat indah berubah menjadi buruk. Kenangan yang tak bisa aku tepis akan muncul ketika gemurat warna jingga membias di mata.
Aku menyerah, pernah berpikir berhenti dan tak akan melihat senja. Namun, aku tahu senja sore itu berbeda denganmu. Bertahun-tahun aku mencoba kembali mengakrabkan diri pada senja. Senja yang dulu selalu aku nanti bersamamu tentunya.
Berbeda memang. Aku harus kembali menata hidupku. Belajar untuk kembali menyukai senja meski kala senja datang memori masa lalu akan menjelma layaknya komedi putar. Tak bisa aku hentikan.
Sekarang aku bisa menerima. Kepergianmu hanya sebatas kenangan masa lalu yang akan menguatkan. Hanya untuk mengingat bahwa kamu seperti senja. Meninggalkanku ketika aku mulai terbiasa. Tapi senja selalu tahu, dia akan selalu kembali meski terkadang aku merutukinya. Tidak sepertimu yang pergi, begitu saja.
Diana Resmi
23/07/2017
Aku lebih suka mencintaimu secara sederhana. Seperlunya saja. Bukan maksudku tak bisa setia. Biarkan saja aku seperti ini. Karena aku takut suatu saat nanti entah kapan waktunya kau akan meninggalkanku tanpa alasan. Aku hanya berusaha menjaga hatiku agar tak hancur seperti diterjang ombak besar.
Kau pun boleh sama sepertiku. Karena aku tak pernah menuntutmu untuk meniru orang lain. Aku punya banyak kekurangan dalam mencintaimu. Begitupun kamu yang juga berhak punya kekurangan saat mencintaiku.
Maaf jika selama kau bersamaku, aku tak pernah membuatmu bahagia. Aku tak bisa mengungkapkan cintaku. Aku pun tak bisa seperti yang lain ketika sedang jatuh cinta.
Aku seperti ini bukan untuk balas dendam. Aku memang pernah jatuh cinta sejatuh jatuhnya lalu ditinggal begitu saja. Pernah hancur sehancur hancurnya karena harapan yang pernah ada hilang sekejap mata.
Aku hanya sedikit takut akan jatuh cinta. Memang setelah kau datang kau mampu sedikit menghapus duka. Tapi ingatan tentang kehampaan luka masih tersisa. Dan ketakutan akan luka yang masih menganga.
Maafkan aku. Aku tak mampu memberi yang terbaik. Aku masih saja takut akan ketulusanmu. Masih saja takut akan kau tinggalkan. Aku hanya tak mau kau pergi meninggalkan luka.
Terima kasih masih bersedia menemani. Aku memang mencintaimu sekarang. Tak ada yang lain. Tapi aku akui cintaku masih sederhana. Aku hanya ingin cinta yang sederhana ini mampu bertahan sampai batas waktunya. Dan akan saling menguatkan entah kapan ujungnya.
Diana Resmi
22/07/2017
K.H Mustofa Bisri dalam cerpennya yang berjudul Gadis Beralis Tebal Bermata cemerlang ini hanya menyajikan beberapa tokoh saja. Tidak d...